Rabu, 25 Januari 2012

Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) berstatus baru “sangat rentan punah (critically endangered)”


Gajah Sumatra merupakan mamalia darat terbesar di daratan Sumatra, hewan ini dapat mempunyai bobot sekitar 4 ton dan tinggi sekitar 3 m saat dewasa. besarnya ukuran serta tenaganya yang besar ini banyak orang menggunakan tenaganya untuk berbagai tujuan. Satwa ini mampu membawa barang-barang berat yang tidak bisa dilakukan dihutan lebat serta sebagai alat transportasi untuk melewati hutan yang berbahaya, namun tak sedikit orang juga yang berkonflik dengan gajah. Berdasarkan pernyataan dari forum gajah tahun 2010, populasi gajah Sumatra sekitar 2400-2800 ekor.


 Sebelumnya ada berita mengenai seekor gajah Sumatera dewasa yang akhirnya mati di Balai Raja, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis pada 26 Maret 2011. Bantuan medis yang diberikan oleh Dokter Hewan BKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) Riau, WWF dan lainnya tidak berhasil menyelamatkan nyawa induk gajah tersebut karena kondisinya yang sudah sangat lemah. Diduga induk gajah tersebut diracun oleh oknum yang tak bertanggungjawab akibat konflik lahan dengan warga sekitar (wwf.or.id)

International Union For Conservation Of Nature (IUCN) kini menaikan status Gajah Sumatra dari posisi rentan punah (endangered) menjadi sangat rentan punah (critically endangered). Status itu satu tingkat di bawah punah di alam liar (extinct in the wild) ( kompas, 25 januari 2012). Hal tersebut terjadi karena gajah kehilangan 70% habitatnya dan separuh populasinya. Penurunan populasi gajah ini akibat deforestasi dan konversi hutan menjadi lahan sawit/kebun. Saat ini populasi gajah tersebar dalam bentuk kantong-kantong populasi gajah yang tersebar dipulau Sumatra. Hal tersebut merupakan efek dari pembukaan lahan yang membuat hutan di Sumatra menjadi terfragmentasi.
  
Gajah hidup sebagai kelompok (koloni), yang pada dasarnya mempunyai daerah jelajahnya (home range) sendiri-sendiri. Luas daerah jelajah masing-masing kelompok bisa seluas 2.4–166.9 km2, dan wilayahnya meliputi hutan rawa, hutan rawa gambut, hutan dataran rendah dan juga hutan pegunungan rendah. Saat ini kebanyakan dari daerah tersebut di pulau Sumatra telah berubah menjadi kebun kelapa sawit atau terbuka oleh lahan tambang. Oleh karena itu perlu adanya sinergi pengelolaan areal perlindungan gajah, diikuti dengan informasi daya dukung terkini gajah Sumatra.

Janganlah kita berdiam diri, menunggu kebijakan dari pemegang kebijakan yang entah kapan keluarnya. Kerjakanlah apa yang bisa kita kerjakan, suarakanlah apa yang sebenarnya terjadi, agar semua orang terbuka mata hatinya. Bahwa manusia juga tidak bisa tinggal sendiri tanpa adanya kehadiran makhluk lain dibumi ini.

Salam Fauna, selamatkan fauna Indonesia,
Suryadi, DKH UKF

Minggu, 15 Januari 2012

Creb's goes to kebun raya cibodas

Minggu, 15 januari 2012

hari ini gw ikut farewell party crebs 2011 (himpunan profesi anak2 biokimia) di kebun raya cibodas
gw berangkat pagi2 jam 7, dengan perjalanan yang cukup macet antara bogor-cibodas. dan finally gw sampe parkiran jam 10.00 dengan keadaan hujan parah. So...kita pada diem dalam bis ga keluar ampe kita keluar pas gerimis.

kebun raya cibodas diselimuti kabut2 tipis yang menyelimuti kawasan pegunugan itu,
hujan gerimis terus turun ga berenti2.. acara tetep lanjut walau dengan keadaan demikian

saran gw jangan pergi ke daerah lapang kalo ujan2 ( Ya iylah...) selain acara kurang maksimal, mood jadi bete gara2 dingin dan becek..

salam hangat dari bogor yang berbalut gerimis..

Kamis, 15 Desember 2011

Badak Jawa Vietnam (Rhinoceros sondaicus annamiticu) Dinyatakan Punah - Oktober 2011


Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dinyatakan punah di Vietnam, menurut tim konservasi. WWF dan International Rhino Foundation mengatakan bahwa badak jawa terakhir yang dimiliki oleh negara tersebut kemungkinan dibunuh oleh pemburu gelap. Dengan matinya badak tersebut, maka spesies badak jawa di Vietnam dinyatakan sudah punah. Kepunahan ini disampaikan oleh WWF, badan perlindungan alam liar PBB, dan Yayasan Badak Internasional, dilansir dari BBC, Selasa 25 Oktober 2011. Mereka mengatakan badak tersebut ditemukan mati di Taman Nasional Cat Tien dengan luka tembak di kaki dan culanya telah dipotong. Berdasarkan laporan WWF, badak bercula satu tersebut adalah satu-satunya badak Jawa yang tersisa di Vietnam sejak tahun 2008 lalu. Dengan jumlahnya yang semata wayang itu, kepunahan badak di Vietnam tidak mengejutkan para ahli.
Badak jawa Vietnam atau Rhinoceros sondaicus annamiticu adalah sub spesies dari tiga spesies badak Jawa di Asia. Badak Jawa India atau Rhinoceros sondaicus inermis juga telah punah. Spesies badak Jawa yang masih hidup adalah Badak Jawa Indonesia, Rhinoceros sondaicus sondaicus, yang hanya berjumlah 55 ekor di hutan lindung Ujung Kulon, Jawa Barat. Perburuan liar terhadap badak meningkat dalam beberapa tahun belakangan. Tidak hanya di Asia, badak-badak di Afrika juga termasuk yang terancam punah akibat pemburuan yang tidak bertanggungjawab. Peningkatan perburuan badak, menurut laporan jaringan pengawas perdagangan satwa liar global, adalah berkat permintaan dari pasar obat tradisional di Asia. Cula badak, konon dapat diracik menjadi obat kejantanan yang ampuh. Perburuan liar badak berhasil diatasi di Indonesia dengan program konservasi yang ketat.
"Berkat kerja aktif perlindungan badak di Indonesia, tidak ada laporan perburuan badak Jawa di Ujung Kulon dalam satu dekade terakhir. Kunci keberhasilannya perkembangbiakan hewan ini adalah dengan manajemen habitat yang tepat," kata Bibhab Kumar Talukdar, kepala Serikat Konservasi Alam Internasional.

Foto-foto dari Badak Jawa vietnam dari camera trap berikut dengan penemuan dari kerangka badak jawa vietnam terakhir: 




 

Minggu, 08 Mei 2011

Ujung Kulon Keindahan dari Ujung barat Jawa

Hembusan Angin, Ombak dan Pasir
Menyertai Langkah..








ujung kulon...langkah ku tempuh di punggungmu
hembusan nafasmu merasuk dalam paruku
ambang batas suaramu, terngiang telingaku
badak hidup damai, banteng berkembang nyaman
konservasi dalam perjuangan tiada akhir
konservasi..
bersama-sama menjaga



Jumat, 01 Oktober 2010

PENDAKIAN GUNUNG

Pendakian tidak semata karena sebuah kebanggaan, tidak pula suatu obsesi apalagi sebuah kenekatan. Tapi pendakian adalah sebuah pengalaman dan pembelajaran akan sebuah ilmu yang tiada ditemukan dari apapun kecuali pendakian itu sendiri -someone-










PAWASKA SATU TIM SATU NYAWA....!





Jumat, 24 September 2010

satwa langka herbivora

Saatnya nambah postingan, karena terpilih jadi spesialis kijang (bukan kemauan, tapi gara2 hasil undian di Cibunar, Ujung Kulon. red) maka saya berinisiatif menerbitkan posting tentang kijang, berikut adalah sedikit hal mengenai kijang.



Kijang (Muntiacus muntjak)


klasifikasi kijang adalah:

Kerajaan : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mamalia

Ordo : Cetartiodactyla

Famili : Cervidae

Genus : Muntiacus

spesies: M. muntjak (Zimmermann, 1780)


Kijang (Muntiacus muntjak)
Tubuh berukuran sedang, panjang tubuh termasuk kepala 89-135 cm, panjang ekor 12-23 cm, tinggi bahu 40-65cm, dengan berat mencapai 35 kg. Mantel rambut pendek, rapat, lembut dan licin. Warna bervariasi dari coklat gelap hingga coklat terang. Kijang jantan mempunyai ranggah pendek, tidak melebihi setengah dari panjang kepala dan bercabang dua serta gigi taring yang keluar.
Perilaku :
Kijang yang bergerak akan mengeluarkan suara yang berderak-derak. Gigi taring dimanfaatkan untuk mempertahankan diri. Jika sedang gelisah, terkejut atau memanggil kijang lainnya akan mengeluarkan gonggongan anjing oleh karena itu satwa ini diberi nama barking deer.
Habitat :
Hutan tropika hingga mencapai ketinggian 2000 mdpl, India, Indonesia ke timur sampai Jawa, Cina dan Taiwan.

Sumber: BKSDA DIY

Selasa, 14 September 2010

pawaska-ku, kamu & kita tercinta


PAWASKA (pecinta alam warga analis kimia)
satu tim satu nyawa, hidup pawaska...!

satu bumi,satu langit,satu persaudaraan.